Cerpen Edisi 1 Ruang Cendekia


(Ilustrasi : Kompas.com)

100 Impian
Oleh: Tri Ananda Girsang

Memiliki sebuah harapan, mimpi, atau cita-cita adalah sebuah kebaikan. Tentunya jika hal tersebut dalam koridor jalan kebaikan dan menyerahkan sepenuhnya terhadap keputusan Allah kelak, setelah diawali dengan usaha keras dan doa yang tak pernah putus. Bahkan Rasulullah SAW memiliki harapan atau cita-cita, yang beliau berusaha wujudkan dengan berusaha keras, berdoa tanpa putus dalam kepasrahan pada Allah, dan ikhlas tawakal menyerahkan keputusannya pada Sang Pencipta.
Saat ini saya sedang menjalani status sebagai mahasiswa semester IV di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan. Perjalanan saya mulai dari awal semester sampai saat ini penuh dengan perjuangan yang maksimal. Bahkan dari sebelum masuk kuliah tepatnya pada saat semasa SMA.

Saya mulai berpikir bagaimana cara dan langkah yang harus saya terapkan agar saya bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Sementara orang tua saya tak mampu lagi untuk membiayai kuliah saya. Saya ingin seperti teman-teman saya yang lain, melanjutkan pendidikannya dan menggapai cita-citanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kemudian Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menawarkan beasiswa kuliah yakni Beasiswa Bidikmisi untuk para siswa-siswi yang berprestasi namun kurang mampu. Setelah mengetahui berita tersebut saya pun semakin semangat bahwa saya pasti bisa kuliah dan yakin pada diri sendiri. Saya berusaha dan mencari tahu bagaimana untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Kemudian saya sudah menjadi peserta SNMPTN-Bidikmisi, namun qodarullah rezeki saya tidak berada disitu. Saya memutar balik pikiran saya, akankah saya kuliah? Saya patah semangat dan putus asa. Namun, ada satu sosok memotivasi saya untuk lanjutkan perjuanganmu ini. Akhirnya saya mendaftar SBMPTN-Bidikmisi dan saya hanya mempunyai waktu 1 bulan belajar dan semua telah terlewati.


Akhirnya impian saya terwujud untuk bisa berkuliah di perguruan tinggi negeri yang ada di kota Medan. Saya lulus melalui jalur SBMPTN Bidikmisi, dengan pilihan pertama saya yakni S1 Pendidikan Matematika. Seperti harapan dan impian saya yang ingin menjadi seorang guru.
"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di Depan, Seorang Pendidik harus memberi Teladan atau Contoh Tindakan Yang Baik, Di tengah atau di antara Murid, Guru harus menciptakan prakarsa dan ide, Dari belakang Seorang Guru harus Memberikan dorongan dan Arahan." (Ki Hajar Dewantara)
Pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan. Harus memperhatikan pangkal kehidupan dalam kesenian, peradaban dan syarat-syarat agama. Dan Pengajaran ialah bagian dari pendidikan.
Kalimat ini memotivasi saya untuk menjadi pendidik. Pendidik yang meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, pendidik yang membangun bangsa, pendidik yang dapat menggali potensi siswanya, dan pendidik yang senang ketika siswanya mencapai kesuksesan. Itulah keberhasilan ketika menjadi seorang pendidik.

Ketika saya mampu membahagiakan orang lain itulah sebagai tolak ukur kehidupan saya, bermanfaat untuk orang lain. "Berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan". Terlepas dari itu, saya tidak mau menjadi mahasiswa biasa, jika trending zaman mengatakan “Mahasiswa kupu–kupu (Mahasiswa kuliah–pulang)”, sebaliknya saya ingin menjadi mahasiswa yang disebut dengan “kura-kura (Mahasiswa kuliah–rapat )”.

Saya mulai menuliskan target pencapaian dan ditulis dalam kertas binder. Saya kemudian tempelkan di dinding kamar kost saya. Semua impian saya sudah saya tulis di secarik kertas itu. Terinspirasi dari seorang kakak yang selalu membimbing saya di masa SMA, setiap pekannya kami rutin bertemu bersama teman-teman yang lain. Terkait dengan sebuah impian tersebut, kakak pembimbing menceritakan saat ia mengikuti sebuah training.
Pembicara dalam acara training itu berkata, “Tuliskanlah mimpi-mimpi Anda secara nyata! Jangan Anda tulis dalam ingatan saja, karena pasti Anda akan lupa. Tuliskanlah secara nyata! Tulislah 100 target Anda di atas kertas hingga suatu hari nanti yang Anda lihat di kertas itu hanyalah sebuah coretan, coretan karena Anda telah mencapainya.”, dan itulah yang dilakukan pemuda itu. Ia menuliskan 100 targetnya di atas 2 lembar kertas, lalu menempelkannya di dinding kamar.

Mengingat kembali satu itu kertas tersebut masih saya simpan sampai sekarang, dan impian saya satu-persatu mulai terwujud. Kemudian saya menambahkan lagi tulisan target prestasi saya di kuliah. Mulai dari mengikuti organisasi, ikut karya tulis ilmiah, memenangkan lomba PMW, dan masih banyak lagi.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut harus memahami dari awal apa yang pernah dikatakan oleh orang tua saya bahwa mimpi itu harus dibayar, bayarnya tidak pakai uang, tetapi dengan menggunakan keyakinan, usaha, keberanian, semangat dan paling utama adalah doa.
Dalam mewujudkan impian kita butuh keduanya (doa & usaha) diakhiri dengan tawakal (berserah diri pada Allah). Sebab doa & usaha adalah modal kita. Seperti kita memancing, kita butuh mata kail dan umpan. Jika kita ibaratkan, doa adalah mata kailnya sedangkan usaha adalah umpan kita. Jika kita ingin mendapatkan ikan salmon tentunya kita tidak bisa menggunakan mata kail biasa dengan umpan seekor cacing, bukan? Begitu pun dengan kesuksesan. Jika kita ingin mendapatkan kesuksesan yang besar, doa dan usaha pun harus sebanding dengan apa yang kita inginkan.
Alhamdulillah, semoga yang sedang membaca cerita ini dapat menginspirasi teman-teman. Bila ada salah kata mohon dimaafkan, ambil yang baiknya dan lupakan yang buruknya. Terima kasih


“Jadilah mahasiswa yang bukan hanya sekedar nama, namun dapat menginspirasi banyak orang. Dengan kerja nyata, kerja ikhlas, dan tetap selalu sabar dan juga bersyukur.”
Pematangsiantar, 17 Juli 2020

Tentang Penulis
Tri Ananda Girsang, lahir di Rantauprapat, 11 Juli 2000, saya merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Lebih dikenal dengan panggilan Nanda. Dan saat ini saya menempuh pendidikan di UNIMED, Program Studi Pendidikan Matematika stambuk 2018. Dengan motivasi hidup "bersyukur dan bersabar".

Komentar

Posting Komentar