(Sumber Gambar : Kompas.com)
BENDUNGAN RASA
Oleh : Adinda Sahira
Kilat menyambar ria bersahutan tanpa henti malam itu, ketakutan menggetarkan hati wanita tua yang khawatir menunggu kabar anaknya yang tak kunjung memberi kabar satu tahun lamanya sejak pindah keluar kota. Sedih hati nan rindu terpancar pada raut wajah wanita itu sebut saja Nek Ndun, entah mengapa firasat seorang ibu akan anak sangatlah kuat seperti sinyal pada tiang pemancar yang selalu memberikan pantulan-pantulan frekuensi. Aryo putra pertama Nek Ndun mengangkat kakinya dari rumah orang tuanya pergi ke rantau orang sebab hati menaruh kesal pada sang ibu. Entah apa yang membuat hati Aryo sangat teriris, Tanya sang Ibu dalam benaknya. Kini Ibu tinggal bersama suami dan ketiga anaknya dalam rumah tua tempat di mana semua cerita bermula.
“Do, Edo,” sapa seorang perempuan.
“Iyo Uni? Apo kecek lai?” sahut Edo Anak Ketiga dari empat anak Nek Ndun yang logatnya sekian berubah akibat lama tinggal di kota Padang.
“Ah, tak ngertilah aku cakap kau kecek kecek apa pulak?”. Balas Erni kesal dengan Bahasa Edo.
“Itu kau tengok Ibu, kenapa sedih sekali kakak liat kau buat marah ibu ya?” sambungnya
“Eh, Indak aden ko apola Uni ni, sikit sikit ambo disalahi jahat bana,” sahut Edo sambil mendekat ibu yang duduk dikursi tamu sambal memegang handphone jadulnya.
Tanya Edo “Ibu kenapo? Indak biasanyo Edo liat manangih nih, apa hal bu, carito ka Edo.” Lirik Nek Ndun beralih ke Edo dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ibu kenapo manangih? Ada apo? Uni siko lah sabanta,” sahut Edo memanggil Erni. Erni sang kakak langsung menghampiri mereka dengan bergegas
“Iya sebentar.”
“Loh, Ibu kenapa kok nangis? Sudahla bu tak usah dipikirkan Aryo si malinkundang itu, sudah berapa banyak harta Ibu dijualnya hanya untuk kepentingan pribadinya saja. Kerja tidak, nyusain iya,” cetus Erni.
“Apo hal ini Uni? Edo baru pulang ke Medan ado sajo masalah.” Edo yang tidak tahu masalah pun mulai curiga.
Nek Ndun berusaha tidak ingin mengungkapkan kesedihan dan kerinduan akan anaknya Aryo berjalan tergopoh meninggalkan Erni dan Edo yang penasaran akan sang Ibu Tak berapa lama kemudian, terdengar suara panggilan masuk dari handphone Erni.
“Halo? Aryo, kemana saja kau baru menelpon sekarang.” Sang Ibu berbalik badan mendengar nama Aryo, lalu kemudian suasana berubah kembali.
***
Nampak jelas kerinduan Ibu dengan anak yang sangat ia sayangi. Anak pertamanya, Aryo. Sontak Erni dan Edo merasakan keanehan pada Ibunya benar dugaan bahwa Ibu sangat merindukan Aryo. Sepanjang telfon Erni merasa sedikit kesal raut wajahnya, membuat Edo merasa ingin tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Ibu yang sebelumnya berdiri perlahan duduk berharap telfon diberikan kepadanya untuk melepas rindu dengan anaknya.
“Sudah ya, aku tidak punya uang Assalammu’alaykum!” tegas Erni dan mematikan telponnya.
Erni berusaha menarik napas dan duduk meredakan emosinya yang tadi sempat naik saat berbicara dengan Aryo. Heran Erni dengan sang Ibu yang tiba-tiba duduk kembali mendekati mereka.
“Ibu, ini anak yang ibu bangga-banggakan? Sudahlah bu dia sudah besar masih mengharapkan belas kasih untuk diberi uang. Dia kira Erni tidak ada pengeluaran apa.” Erni menunjukkan keresahan pada Aryo sang abang yang selalu menerornya untuk meminta uang. Erni sebenarnya tahu Ibu merindukan Aryo, namun hanya diam berharap agar Ibu tidak berlarut pada kerinduannya yang mungkin tidak dirasakan kembali oleh Aryo.
“Nak, jangan begitu. Walaupun begitu dia tetap saudara kandungmu,” jelas Ibu.
Edo yang belum mengerti duduk permasalahannya hanya dia terpaku dan berniar bertanya langsung pada Erni mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Selang beberapa jam kemudia Edo mulai mendatangi Erni yang sedang mencuci piring didapur. Berharap menemukan jawaban atas rasa penasarannya tentang abangnya itu.
“Uni, apo yang sebetulnya terjadi?” tanya Aryo.
Erni yang seperti malas menjawab pertanyaannya, dengan berat hati menjawab agar Edo pun mengetahui duduk permasalahannya. Erni mulai menceritakan kejadian pada malam itu ketika Aryo memaksa Ibu dan Bapak menjual sebidang tanah yang padahal nantinya tanah itu sebagai warisan untuk dibagi secara rata, namun karena dengan keserakahan Aryo ingin menguasai semuanya sendiri. Alhasil usahanya tidak berhasil sikap keras Bapak yang sangat kuat dan emosi sampai mengusir Aryo dari rumah merekapun terucap. Hal itu yang membuat Ibu mereka merasa kasihan dengan anaknya Aryo yang pergi meninggalkan rumah walau memang niat Aryo sudah tidak baik lagi.
Mendengar cerita Erni, Edo merasa terkejut dan juga mulai tidak menyukai sifat Aryo yang ingin menguasai harta keluarga.
“Iko indak bisa dibiarkan, Uni. Kasihan Ibu.” Khawatir Edo kepada Ibu.
“Bagaimana lagi do, begitula perasaan seorang Ibu dengan anaknya. Apalagi Aryo anak pertama anak yang paling Ibu harapkan kehadirannya.” Jelas Erni.
“Sudah, aku mau tidur sudah malam. Semoga saja si Aryo besok tidak menganggu lagi.” Erni pergi masuk ke dalam kamar, dan Edo pun juga menyusul untuk beristirahat menyambut hari esok. Berharap akan ada kabar baik yang datang. Tiba keesokan harinya, matahari terbit memancarkan sinarnya namun Ibu tidak kunjung hadir duduk membersamai Bapak, Erni, Edo, dan Rini anak bungsu yang sosoknya sangat penenang dalam keluarga.
“Kak, Pak, Ibu mana?” tanya Rini.
“Coba kamu cek Erni ke kamar, tadi selepas subuh Ibumu gaberhenti dzikir.” ujar Bapak.
***
Erni pun beranjak dari meja makan menuju kamar sang Ibu, terlihat Ibu sudah berbaring membalik arah menghadap dinding dengan masih menggunakan mukena. Erni memanggil sang Ibu berulang kali namun tak kunjung mendapat balasan balik dari sang Ibu.
“Bu, Ibu serapan ayuk nanti bubur Ibu dingin loh..” rayu Erni dengan bujukannya
Lama Erni memanggil namun tak kunjung ada balasan dari sang Ibu.
Erni perlahan mendekat sang Ibu dan membalikkan badan terasa badan sangat panas, terlihat Ibu terbaring sambil menggigil merasakan meriang dan demam tinggi. Erni sontak kaget dan bergegas memberitahu keluarga yang lain dimeja makan dan menyiapkan kompresan serta obat untuk Ibu. Terdengar Ibu mengigau memanggil nama Aryo selalu. Terlihat jelas betapa Ibu sangat merindukan sosok Aryo anaknya.
Edo pun berinisiatif menghubungi Aryo yang sedang jauh diperantauan dan memberitahu kabar sang Ibu berharap Aryo mau berbicara dengan sang Ibu. Namun berulang kali Edo membujuk Aryo tetap tidak mau berbicara dengan sang Ibu. Entah dendam sebesar apa yang Aryo pelihara dalam hatinya. Seperti masih berharap sang ibu dapat membujuk bapak menjual sebidang tanah untuknya.
“Sudah lah Edo, tak usah kau hubungi anak durhaka itu. Dasar anak tidak tahu diuntung.” Tegas Erni sambil menahan amarah.
“Memang Edo benar-benar sudah jadi budak dunia. Gara-gara harta Ibu kalian pun dibuatnya seperti ini,” ujar Bapak.
Rini si bungsu tidak bisa berkata apa-apa dan takut menggurui keluarganya dan lebih memilih diam, sementara Ibu sudah mulai membaik ditangani langsung oleh Erni. Semuanya pun meninggalkan kamar dan membiarkan Ibu kembali beristirahat.
Sontak Edo menjadi kesal sekali dengan Aryo, atas perilakukan kepada Ibu yang sudak membuat Ibu menjadi sakit seperti ini. Hari itu seluruh anggota keluarga dirumah seharian sebab hari itu tanggal merah yang meliburkan semua pekerja. Tiba di malam hari kondisi Ibu semakin tidak terkendali, nafas yang mulai satu satu berhembus. Keringat dingin yang terus bercucuran keluar membanjiri badan seakan pertanda malaikat maut menjemput Nek Ndun di malam itu.
“Ibu, jangan pergi dulu Ibu Edo belum bisa kehilangan Ibu.” ucap Edo disamping Ibu memegang tangannya sambil menangis.
Sementara Erni masih mencoba menghubungi Aryo untuk segera pulang kerumah karena keadaan Ibu semakin memburuk.
“Ah, sudah tidak usah lebay paling Ibu hanya demam biasa saja”. Cetus Aryo melalui telfon dengan Edo dan langsung menutup teleponnya.
Keadaan Ibu semakin memburuk dan tak kunjung ada perubahan, Erni dan Rini menangis disamping Ibu tidak hentinya, beberapa menit berikutnya sang Ibu sudah dijemput maut dan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Tangis membanjiri keluarga mereka malam itu tanpa ada satupun yang tidak bisa berkutik dan masih tidak percaya dengan hal ini.
Bapak dan Edo mulai merapikan rumah dan mempersiapkan tikar untuk pelayat datang takjiah. Terdengar suara pengumuman dari masjid yang menyeru bahwah Nek Ndun sudah tiada. Sontak seluruh tetangga hadir dan ingin melihat jenazah nek Ndun untuk yang terakhir kalinya seblum dihantarkan ke tempat peristirahatannya terakhir. Edo kembali menghubungi Aryo dan mengabarkan kalau Ibu sudah tiada. Sontak Aryo merasakan penyesalan dalam dirinya dan menangis tersedu-sedu dan malam itu juga Aryo memesan tiket pesawat untuk pulang kerumahnya. Namun entah apa maksud Allah, penerbangan balam itu dan pagi besok tidak ada dan tersedia jam 10 pagi. Tidak ada pilihan Aryo mengambil penerbangan pukul 10 esok pagi.
Keesokan dipagi harinya seluruh persiapan fadhu kifayah telah dilaksanakan dan Aryo sepertinya tidak terkejar untuk melihat jasad sang Ibu untuk terkahir kalinya. Perasaan menyesal menimpa Aryo yang mulai tidak karuan berharap ketika ia pulang sang Ibu masih ada namun sekarang itu hanyalam khayalan.
“Bagaimana ini Kak, Bang, Pak? Apakah Ibu dikuburkan menunggu mas Aryo?” tanya Rini.
“Tidak, tidak akan sempat. Lebih baik kita fokus saja pada fardhu kifayahnya Ibu.” Saran Bapak.
Benar, takdir seakan tidak memihak pada Aryo. Sang Ibu telah dikuburkan namun Aryo baru tiba di kota siang hari. Aryo yang dengan rasa bersalah menggandrungi dirinya terdiam dan terpaku tidak bisa berkata apa-apa dan merasakan penyesalan terbesar dalam dirinya sendiri sebab belum sempat meminta maaf kepada Ibu untuk yang terakhir kalinya. Sudah habis rindu dimalam itu, bendungan rasa sang Ibu ternyata bukan untuk dilepas dengan Aryo anaknya, namun melepas untuk Sang Pencipta. Allah lebih menyayangi Ibu dan mengambil Ibu di malam itu dari keluarganya.
Seakan tak habis pikir, namun begitula kenyataannya. Sesal, penyesalan, sedih dan gundah menyelimuti Erni, Edo, Rini, Bapak dan Aryo dihari duka itu. Aryo menangis merintih karena tidak mau berbicara dengan Ibunya disaat-saat terakhir malam itu.
***
Setelah selesai seluruh proses fardhu kifayah Nek Ndun, mereka kembali kerumah dalam kondisi berduka. Erni, Edo dan Bapak menahan tangis sekaligus amarah pada Aryo. Aryo yang terlihat sangat bersalah duduk merenung didepan teras rumah sambil mengingat kenangan manisnya bersama sang Ibu yang telah tiada.
“Lihat tuh dia, sesal kan belum minta maaf sama Ibu”. Ucap Erni dari dalam rumah bersama Edo, Rini dan Bapak.
“Memang anak durhaka, tidak tahu diuntung sudah tau dia paling disayang Ibu tapi masih saja melawan,” sambung Edo.
Bapak yang masih sangat berduka dan terkejut hanya bisa diam terpaku ditempat duduk sembari menepiskan air mata sudah ditinggal oleh sang istri. Aryo yang masih diteras rumah mulai masuk kedalam rumah berharap mendapat cerita mengenai kepulangan sang Ibu. Namun, Aryo langsung diberikan ceramah oleh Edo, ia tiada hentinya memarahi Aryo. Sementara Aryo sudah mulai mengakui kesalahannya dan hanya diam saja.
Keesokan harinya, Aryo sudah mulai membuat suasana mencair Aryo mengakui segala kesalahannya lalu meminta maaf pada Erni,Edo, Rini dan Bapak. Mereka memaafkan kesalahan Aryo walau masih sangat kecewa dengan perilakunya pada sang Ibu. Aryo meminta izin untuk pamit kembali keluar kota pada keluarganya dan berjanji untuk merubah hidupnya lebih baik lagi dan tidak menyusahkan keluarga lagi.
Tentang Penulis
Adinda Sahira adalah Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan stambuk 2018. Mengikuti organisasi pertama kali dikampus ialah LP2IM pada tahun 2018, organisasi lain yang diikuti ialah UKMI Ar-Rahman Unimed, dan UMMAT Unimed. Memulai mencoba merambah kedalam dunia kepenulisan baru-baru ini, Juga turut mengikuti kegiatan-kegiatan projek nulis dibeberapa komunitas.
Sapa Adinda di : Blog : lingkarinduu.blogspot.com, Instagram : @adindaash

Mantap, terus berkarya sobat😊
BalasHapus